Malam itu jam sembilan lewat. Gue masih di depan laptop, ngebut revisi desain yang deadline-nya besok pagi. Anak gue, umur enam tahun, datang membawa buku gambar. Dia berdiri di samping meja, diam sebentar, lalu bilang pelan, "Papa kok masih di laptop terus?"
Gue ingat banget momen itu. Bukan karena kalimatnya panjang atau puitis. Justru karena singkat dan datar. Dia nggak marah, nggak nangis. Cuma bertanya, seperti sudah hafal jawabannya. Dan itu yang bikin gue diam beberapa detik sebelum bilang, "Sebentar lagi ya, Sayang."
Sebentar lagi. Kalimat yang udah gue ucapkan entah berapa kali minggu itu.
Kerja dari rumah bukan berarti anak otomatis dapat kita
Ini jebakan yang gue rasain sendiri di dua tahun pertama jadi freelancer. Logikanya kelihatan masuk akal: gue nggak berangkat ke kantor, gue ada di rumah sepanjang hari, jadi pasti lebih banyak waktu bareng anak. Kenyataannya? Tubuh gue ada di rumah, tapi kepala gue di folder klien.
Baca juga: Dompet Aman, Anak Tetap Dapat: Strategi Hemat Buat Freelancer
Anak-anak nggak bodoh soal ini. Mereka bisa membedakan "ada" dan "hadir". Gue sering banget duduk di ruang tamu sambil buka HP, dan anak gue main di lantai. Secara fisik kami satu ruangan. Tapi dia tahu, kalau dia ngajak ngobrol, gue bakal jawab "hmm" tanpa lihat ke arahnya.
Yang lebih nyesek, anak mulai belajar menyesuaikan diri. Dia berhenti manggil kalau lihat gue pegang laptop. Dia main sendiri lebih lama. Awalnya gue pikir itu bagus — anaknya mandiri. Lama-lama gue sadar, itu bukan mandiri. Itu semacam pasrah.
Anak yang berhenti minta perhatian bukan berarti dia nggak butuh. Sering kali dia cuma sudah tahu kapan permintaannya nggak akan ditanggapi.
Yang akhirnya gue ubah, dan lumayan berhasil
Gue nggak akan pura-pura punya solusi sempurna. Masih sering kacau. Tapi ada beberapa hal yang gue ubah dan efeknya kerasa, baik buat anak maupun buat kerjaan gue sendiri.
1. Ritual kecil yang nggak boleh ditawar
Gue bikin satu aturan sederhana: 20 menit pertama setelah anak pulang sekolah, laptop ditutup. Titik. Nggak ada notifikasi, nggak ada "cuma cek chat sebentar". Dua puluh menit itu isinya dengerin dia cerita apa aja, kadang sambil makan camilan bareng.
Kedengarannya sepele. Tapi buat anak, ritual yang konsisten lebih berharga daripada waktu panjang yang nggak jelas kapan datangnya. Dia jadi tahu, "Oh, jam segini Papa pasti punya waktu buat aku." Itu yang bikin dia nggak perlu rebutan perhatian di jam-jam lain.
2. Bilang jujur soal waktu, bukan cuma "sebentar lagi"
Gue berhenti pakai kata "sebentar" karena gue sendiri nggak pernah tahu sebentar itu berapa lama. Sekarang gue bilang, "Papa kerja sampai jam empat. Habis itu kita main." Atau kalau memang berat: "Hari ini Papa banyak kerjaan, jadi kita mainnya habis makan malam ya."
Anak bisa menerima penolakan yang jelas. Yang bikin dia bingung adalah janji yang menggantung. Dan gue rasa ini berlaku bukan cuma buat anak kecil — pasangan juga sama.
3. Sesekali ajak anak "masuk" ke pekerjaan kita
Ini favorit gue. Kadang gue tunjukin apa yang gue kerjain, tentu versi yang bisa dicerna anak enam tahun. "Ini Papa bikin gambar buat toko baju." Dia jadi ngerti bahwa laptop itu bukan saingan yang merebut Papa, tapi bagian dari hidup Papa.
Beberapa kali dia malah ikut coret-coret di buku sebelah gue, "bantu" kerja. Nggak produktif secara hasil, tapi produktif secara hubungan. Anak merasa diikutsertakan, bukan disingkirkan.
Soal rasa bersalah yang nggak ada habisnya
Gue nggak akan bilang semua ini bikin gue bebas rasa bersalah. Nggak. Masih ada malam-malam di mana gue merasa jadi ayah yang payah karena lebih banyak ngobrol sama klien daripada sama anak sendiri.
Tapi gue belajar satu hal: rasa bersalah yang cuma dipendam nggak ngubah apa-apa. Yang ngubah adalah keputusan kecil yang diulang terus. Nolak satu proyek yang deadline-nya nabrak acara keluarga. Matiin notifikasi saat makan malam. Nanya ke anak, "Hari ini ada yang bikin kamu seneng nggak?" dan benar-benar dengerin jawabannya.
Buat teman-teman yang juga kerja lepas, gue ngerti banget tekanan finansialnya. Kadang kita ambil kerjaan banyak karena takut bulan depan sepi. Tapi anak nggak tumbuh nunggu kita selesai sibuk. Mereka tumbuh sambil kita sibuk. Pertanyaannya cuma, kita mau sibuk bareng mereka atau sibuk tanpa mereka.
Jadi tiap kali anak gue nanya, "Papa kok masih di laptop?", sekarang gue coba jawab dengan jujur dan dengan waktu yang jelas. Kadang gue tutup laptopnya. Kadang gue bilang, "Lima belas menit lagi, habis itu Papa punya waktu buat kamu." Dan gue usahain janji itu ditepati.
Bukan karena gue sudah jadi ayah yang sempurna. Tapi karena gue nggak mau dia berhenti bertanya.